Kamis, April 24, 2014

Puyang Rambutan

Siapa nyana dibalik rerimbunan pohon di hulu Aliran Sungai yang mengalir tenang di kaki Bukit Gajah, Muarasindang, Kecamatan Sindang Danau, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan ini terdapat makam pejuang kemerdekaan, seorang ulama yang sangat dihormati pada masanya dan pemimpin “ Besemah Libagh – Semende Panjang”…. Ayik Rambutan, demikian masyarakat menyebut nama sungai ini. Udara yang sejuk di siang hari atau udara dingin menusuk tulang ketika senja dan malam hari. Kesan dan aroma mistik pun kental terasa tatkala penulis dan rombongan menyempatkan diri berziarah ke lokasi ini pada Tanggal 23 Juli 2003 silam.(Kisah perjalanan ini lengkap termuat di Majalah MISTERI edisi 350 Hal.22-23 dengan judul: “Ziarah Mistis di Makam Puyang Rambutan”). Lalu Siapa Sebenarnya Puyang Pidaran? Puyang Pidaran adalah nama asli dari “ Toean Lebih Penghoeloe” (Puyang Lebih Penghulu) alias Puyang Penghulu Lebih, Pemimpin pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang" atau dalam istilah Jeme Besemah – Semende sebagai “Mubungan Djagad”. Puyang Pidaran merupakan Mubungan Djagad ke – 7 pada pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang". Berdasarkan silsilahnya, Beliau bernasabkan (Keturunan) ke-7 dari Syech Baharuddin Nur Qodim (Puyang Awak), seorang Wali dan Mubungan Djagad Pertama Besemah Libagh_Semende Panjang dan pendiri Adat Semende.(Fekri Juliansyah:Catatan Sejarah Tanah Semende:2005) Menengok sejarah perjuangan di Tanah Besemah yaitu pada masa Besemah Mardike (Besemah Merdeka, lepas dari Kesultanan Palembang Darussalam) yakni pada tahun 1821 di Perdipe (sekarang bernama Prahu Dipo), salah satu desa/dusun tertua di Kota Pagaralam berkuasalah seorang pemimpin dan ulama kharismatik yang dikenal dengan nama "Toean lebih Penghoeloe" (Puyang Lebih Penghulu/Penghulu Lebih). Di beberapa tulisan ada yang menyebutnya “Tuanku Imam Perdipe” karena pusat pemerintahannya berada di Perdipe. Puyang Pidaran alias Toean Lebih Penghulu memimpin pertempuran melawan Kolonial Belanda pada pertengahan Abad ke-19 Masehi atau pada tahun 1849 . Pada akhir Perang Besemah (Sindang Rubuh), Puyang Pidaran menyingkir ke Semende Mekakau (Pulau Beringin) hingga akhirnya diyakini wafat pada tahun 1850 dan dikebumikan di desa Muara Sindang, tepat di tepiAyik (Sungai) Rambutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar